Inovasi Teknologi Baru untuk ke Bulan

Inovasi Teknologi Baru untuk ke Bulan

Inovasi Teknologi Baru untuk ke Bulan – Saat ini sudah semakin banyak orang yang melakukan sebuah inovasi bukan hanya untuk barang-barang biasa saja, tapi juga untuk beberapa jenis teknologi yang ada di dunia. Hampir 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1972, NASA mengakhiri rangkaian misi berawaknya ke Bulan dalam misi Apollo 17 dan belum pernah dilakukan kembali hingga kini. Dalam catatan sejarah, misi berawak ke Bulan merupakan satu-satunya misi berawak terjauh manusia di luar angkasa.

Setelah itu eksplorasi luar angkasa terus berkembang. Kini, NASA mempersiapkan dirinya untuk teknologi misi-misi deep space yang akan membawa umat manusia lebih jauh ke luar angkasa. Salah satu misi terpenting saat ini adalah mendaratkan kembali manusia termasuk astronaut wanita pertama di kutub selatan bulan dalam misi Artemis yang direncanakan berlangsung pada tahun 2024.

1. Pesawat luar angkasa Orion
Pesawat luar angkasa Orion merupakan pesawat luar angkasa terbaru yang dibuat dan dikembangkan oleh NASA dengan kerjasama sejumlah pihak termasuk dengan badan antariksa negara lain.

Diambil dari nama salah satu konstelasi rasi bintang terbesar, Orion, pesawat ini dikembangkan dari sebuah penelitian yang panjang untuk memenuhi kebutuhan program eksplorasi luar angkasa hingga beberapa dekade ke depan. Pesawat luar angkasa Orion dibangun untuk misi-misi deep space, yang akan membawa manusia menjelajah ke tempat yang lebih jauh di luar angkasa daripada yang pernah dilakukan sebelumnya.

2. Roket peluncur Space Launch System (SLS)
Pesawat luar angkasa Orion akan diluncurkan ke luar angkasa oleh roket pendorong yang bernama Space Launch System (SLS). Dalam situs resminya, NASA menginformasikan bahwa roket SLS merupakan satu-satunya roket yang dapat mengirimkan Orion, astronaut, dan kargo ke Bulan dalam satu misi tunggal. Ketika nanti roket SLS meluncur, roket tersebut akan menjadi roket terkuat di dunia.

Roket SLS memiliki gaya dorong yang jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan roket Saturn V-roket yang berhasil melesatkan manusia pertama menjejakkan kaki di Bulan pada tahun 1969. Selain itu roket SLS mampu meluncurkan lebih banyak kargo ke Bulan dibandingkan dengan kargo yang mampu dibawa pesawat ulang-alik ke orbit rendah bumi.

3. Toilet mahal NASA UWMS
Sebagaimana dilansir, adalah sebuah fakta menarik bahwa misi-misi luar angkasa berawak di masa lalu seperti misi Apollo tidak menyertakan toilet dalam misinya. Jadi dapat dibayangkan bagaimana tidak nyamannya para astronaut ketika sudah tiba saatnya untuk urusan ke “belakang”. Mereka hanya dibekali dengan sebuah kantong khusus yang tentu sangat tidak nyaman.

Setelah sejumlah penelitian, akhirnya NASA mengembangkan teknologi toilet tersendiri yang diberi nama The Universal Waste Management System (UWMS). Toilet canggih dengan harga sekitar 23 juta Dolar Amerika atau sekitar Rp331 miliar tersebut telah dipasang di Stasiun ISS pada tahun 2020 yang lalu. UWMS memiliki dimensi dan berat yang lebih ringan dari toilet pendahulunya serta anti korosi dan hanya butuh perawatan minim.

Toilet UWMS akan dipasang di pesawat luar angkasa Orion, dan stasiun Gateway di orbit Bulan. Selain itu, masih dikembangkan toilet lain yang kemungkinan juga akan dipasang di kendaraan pendarat Bulan untuk kenyamanan kerja para astronaut.

4. Stasiun Gateway
Stasiun Gateway adalah pesawat luar angkasa yang akan berada di orbit Bulan. Di stasiun ini pesawat Orion akan melakukan docking dan para astronaut akan berpindah dari Orion ke kendaraan pendarat permukaan Bulan. Gateway akan menjadi pos terdepan dan pusat kendali yang akan memberikan dukungan vital bagi eksplorasi Bulan.

Gateway adalah salah satu bagian terpenting dari rencana eksplorasi luar angkasa NASA bersama dengan pesawat Orion, roket SLS, dan kendaraan pendarat yang akan membawa para astronout ke permukaan Bulan. Dalam situs resminya, NASA menginformasikan bahwa pembangunan Gateway akan melibatkan kerja sama dengan sejumlah badan antariksa negara lain dan juga dengan perusahaan antariksa swasta seperti SpaceX.

Gateway akan tetap berada di orbit Bulan selama lebih dari satu dekade. Stasiun tersebut akan menjadi tempat tinggal, tempat bekerja dan labolatorium penelitian yang akan mendukung eksplorasi jangka panjang manusia di bulan dan misi-misi deep space selanjutnya.